;

Kamis, 23 Juli 2009

Bagaimana Membumikan Al- Qur'an

Kamis, 23 Juli 2009

Bagaimana Membumikan Al- Qur'an





Judul Buku : Kaifa Nataammal Maa Al- Qur’an Al Adzîm

Penulis : DR. Yusuf Qardhawi

Penerbit : Dar Shorouk

Cetakan : 2005

Tebal : 470 Halaman





Dalam sejarahnya, manusia memiliki kehidupan heterogen yang sarat dengan berbagai perbedaan, maka tak heran jika kemudian lahir bermacam kultur dan budaya. Agar kehidupan manusia tersebut dapat terarahkan dengan baik, dibutuhkan “undang-undang tuhan” yang menurut istilah Nurcholish Madjid bersifat open ended, artinya undang-undang itu tidak dirumuskan secara mendetail sekali, sehinggga tidak kusam dan lapuh dimakan zaman yang selalu berubah.



Semuanya telah terangkum dalam karya monumental tuhan sang pencipta; Al- Qur’an. Ia sebagai wahyu dan mu’jizat memiliki paradigma syari’at organik, dengan metode pendekatan hukum yang tidak dogmatik, sehingga pendekatan institusi ijtihad dan jajdid dalam menginterpretasikannya dapat direalisasikan, dengan harapan menghasilkan interpretasi yang sesuai dengan konteks kekinian dan kedisinian.



Tetapi dewasa ini sebagian orang mulai “nakal” dalam memahami karya tuhan itu, bahkan ada yang mengkritisi nilai substansial yang terkandung di dalamnya. Hal ini membuktikan bahwa masih ada yang belum memanfaatkan keberadaan Al- Qur’an sebagai hudan linnas.



Seorang tokoh ulama kontemporer Syaikh Qardhawi berusaha untuk menjawab permasalahan tersebut dalam bukunya yang berjudul “Kaifa Nataammal Maa Al- Qur’an Al Adzîm”. Dalam karyanya itu dia berusaha memaparkan secara eksplisit bagaimana memberdayakan dan memanfaatkan serta menyikapi dan melaksanakan apa yang terkandung dalam peninggalan rasul terbesar ini.



Secara garis besar pembahasan buku ini dibagi menjadi empat bab. Bab pertama mengangkat permasalahan seputar Khashôisu Al Qur’an wa Maqâsiduhu. Ia menyebutkan bahwa Al- Qur'an memiliki beberapa ciri khusus. Paling tidak ada tujuh, yaitu; kitab ini murni karya tuhan, tidak ada satu pun yang ikut serta dalam membuat redaksinya bahkan Muhammad.



Kitab ini merupakan kumpulan wahyu tuhan yang disampaikan kepada nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril as. Hal itu adalah ketentuan Allah yang menghendaki adanya kitab sebagai pedoman dalam kehidupan manusia, kitab yang berfungsi menjadi konstitusi kemanusiaan dan hukum bagi masyarakat sepanjang masa dimana pun berada. Kitab yang berisi muatan citra peradaban dan keluhuran mulia dalam meraih kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat. Kitab yang menjadi dasar paradigma budaya, dinamika dan peradaban. Kitab yang mengantisipasi harapan dan cita-cita umat manusia, sekaligus menjadi kitab dan syariat paling adil dan benar. Maka tidak diragukan lagi; kitab ini seratus persen adalah karya tuhan.



Ciri kedua yang membedakan Al- Qur’an dari kitab-kitab sakral lainnya adalah kitâb Al mahfûdz, artinya tuhan yang agung perkasa dan alim senantiasa menjaga orisinalitas dan eksistensi ayat-ayat ini hingga akhir zaman kelak. Itulah jaminan tuhan atas kemurnian peninggalan rasul ini. {Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.}





Penulis yang merupakan tokoh intelektual di bidang fiqih (faqih, red) ini menyebutkan juga dalam karyanya bahwa Al- Qur’an merupakan mukjizat terbesar nabi Muhammad yang disampaikan langsung oleh jibril selama kurun waktu dua puluh tiga tahun. Ia menyatakan juga bahwa Al- Quran adalah Kitâb ad Dien kulluhu, kitab zaman kulluhu dan juga kitab al insâniyah kulluhu.



Kemudian pada bab kedua, masuk kepada pembahasan bagaimana selayaknya seorang muslim menghafal, membaca dan mendengarakan ayat-ayat suci Qur’an ketika sedang dilantunkan. Dalam bab ini Syaikh Qardhawi berusaha memberikan pemaparan secara gamblang dan padat seputar etika yang selayaknya dilakukan oleh umat Muhammad terhadap Al- Qur’an itu, sehingga kedudukan Al- Qur’an pun semakin mulia dan kokoh di antara umat manusia.



Setelah menguraikan panjang lebar etika dalam menghafal, membaca dan mendengarkan Al- Qur’an, maka penulis mulai memasuki pembahasan bagaimana memahami dan menginterpretasikan Al- Qur’an, nah bab inilah yang paling urgen untuk disimak dan dikaji. Penulis ingin meyakinkan para pembaca atas urgensi menginterpretasikan Al- Qur’an, ia juga menyajikan beberapa trik dalam menginterpretasikan ayat-ayat tuhan tersebut. Di samping itu ia tak lupa menyebutkan beberapa keutamaan tafsîr Al- Qur’an berikut faedahnya.



Lantas dengan bahasanya yang lugas, penulis menjelaskan perbedaaan antara tafsir bi Al Ma’tsûr dan tafsir bi Al Ra’yi. Pembahasannya mencangkup beberapa permasalahan yang dihadapai oleh mufassir.



Bab ketiga ini merupakan inti dari seluruh pembahasan yang termaktub dalam karya DR Yusuf Qardhawi, karena pada bab ini dia lebih banyak memaparkan metodelogi interprestasi yang sering dilupakan oleh para pemikir kontemporer belakangan ini. Yang mana kesalahan dalam interpretasi ayat-ayat suci itu sangat berdampak fatal bagi penerapannya. Misunderstanding interpretasi merupakan “virus” terbesar dalam kancah pemikiran Islam akhir-akhir ini, terbukti dengan munculnya pemikiran-pemikiran “liar”, sebut saja misalanya ust Roy yang berani menfatwakan kepada pengikutnya untuk sholat dengan menggunakan bahasa Indonesia, langkah progresif Amina Wadud dalam pelaksanaan shalat yang mengedepankan peran wanita dan lain sebagainya.



Kemudian dalam bab terakhir penulis mencoba memaparkan kepada pembaca bagaimana mensosialisasikan kandungan Al- Qur’an dalam kehidupan riil serta menyampaikannya kepada umat manusia (dakwah, red). Bab ke empat ini sekaligus berfungsi sebagai penutup atas pembahasan seputar Al-Qur’an yang diusung oleh Qardhawi.



Secara keseluhuruhan, buku ini mencoba untuk mendeskripsikan nilai-nilai qur’ani yang murni, analitik dan praktis dalam upaya membentuk peradaban manusia yang luhur. Buku ini juga merefleksikan bahwa tak satu pun persoalan manusia yang terabaikan, kecuali Al- Qur’an mendampinginya sebagai petunjuk, penggerak, motivator dan to check and balance tingkah laku manusia serta sebagai terapi bagi trauma psikhis yang menakutkan bagi manusia dalam mengaruhi bahtera kehidupan.



Karya Syaikh Qardhawi ini "laku keras" di pasaran, terbukti dengan diterbitkannya cetakan yang ke empat terhitung dari tahun 1999, hanya saja disayangkan cover depan buku ini tipis sehingga mudah rusak dan lapuh, tetapi anda jangan khawatir, karena dengan membaca buku ini paling tidak wawasan anda seputar Al- Qur'an akan semakin bertambah. Silahkan kunjungi book store terdekat. Selamat membaca Asta la Victoria Siempre.







TULISAN BERJALAN INI SILAHKAN DIISI DENGAN PESAN ANDA

NAMA ANDA - 16.40
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI

0 komentar:

Poskan Komentar